Senin, 24 November 2014

BUDIDAYA KOPI LUWAK

BUDIDAYA KOPI LUWAK




Kopi Luwak adalah seduhan kopi menggunakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Kemasyhuran kopi ini di kawasan Asia Tenggara telah lama diketahui, namun baru menjadi terkenal luas di peminat kopi gourmet setelah publikasi pada tahun 1980-an. Biji kopi luwak adalah yang termahal di dunia, mencapai USD100 per 450 gram

Sejarah

Asal mula Kopi Luwak terkait erat dengan sejarah pembudidayaan tanaman kopi di Indonesia. Pada awal abad ke-18, Belanda membuka perkebunan tanaman komersial di koloninya di Hindia Belanda terutama di pulau Jawa dan Sumatera. Salah satunya adalah bibit kopi arabika yang didatangkan dari Yaman. Pada era "Tanam Paksa" atau Cultuurstelsel (1830—1870), Belanda melarang pekerja perkebunan pribumi memetik buah kopi untuk konsumsi pribadi, akan tetapi penduduk lokal ingin mencoba minuman kopi yang terkenal itu. Kemudian pekerja perkebunan akhirnya menemukan bahwa ada sejenis musang yang gemar memakan buah kopi, tetapi hanya daging buahnya yang tercerna, kulit ari dan biji kopinya masih utuh dan tidak tercerna. Biji kopi dalam kotoran luwak ini kemudian dipunguti, dicuci, disangrai, ditumbuk, kemudian diseduh dengan air panas, maka terciptalah kopi luwak.[1] Kabar mengenai kenikmatan kopi aromatik ini akhirnya tercium oleh warga Belanda pemilik perkebunan, maka kemudian kopi ini menjadi kegemaran orang kaya Belanda. Karena kelangkaannya serta proses pembuatannya yang tidak lazim, kopi luwak pun adalah kopi yang mahal sejak zaman kolonial.



Luwak, atau lengkapnya musang luwak, senang sekali mencari buah-buahan yang cukup baik dan masak termasuk buah kopi sebagai makanannya. Dengan indera penciumannya yang peka, luwak akan memilih buah kopi yang betul-betul matang optimal sebagai makanannya, dan setelahnya, biji kopi yang masih dilindungi kulit keras dan tidak tercerna akan keluar bersama kotoran luwak. Hal ini terjadi karena luwak memiliki sistem pencernaan yang sederhana, sehingga makanan yang keras seperti biji kopi tidak tercerna. Biji kopi luwak seperti ini, pada masa lalu hingga kini sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan telah difermentasikan secara alami di dalam sistem pencernaan luwak. Aroma dan rasa kopi luwak memang terasa spesial dan sempurna di kalangan para penggemar dan penikmat kopi di seluruh dunia.

Di lereng Gunung lawu terdapat budidaya kopi luwak

Alamat : Babar RT. 03/03 Anggrasmanis
             Kec. : Jenawi, Kab. Karanganyar
             Jawa Tengah

Bpk. : Sukiman wignyo Miharjo
Hp.   : 082135498831


Created By : Joy Juanggeum



BUDIDAYA ULAT SUTRA DI LERENG GUNUNG LAWU JAWA TENGAH

BUDIDAYA ULAT SUTRA

Kain Sutra  tentu sudah cukup akrab di tengah masyarakat kita, selain rasa nyaman pada saat dipakai kain Sutra  juga dikenal cukup halus. Sutra  yang dibuat dengan alat tenun tradisional atau Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) semakin menambah daya tarik kain Sutra . Sebagian orang tidak mengetahui bahwa kain Sutra  dibuat dari kokon ulat Sutra , namun bagi sebagian orang budidaya ulat Sutra  telah menjadi lahan bisnis yang cukup menguntungkan. Bisnis budidaya ulat Sutra  ditujukan untuk memenuhi permintaan benang Sutra  sebagai bahan pembuat kain Sutra  dengan cara tenun tradisional..

Jika berbicara mengenai budidaya ulat Sutra  tentu tidak bisa dilepaskan dari pohon murbei sebagai makanan ulat Sutra . Ulat Sutra  sangat menyukai daun murbei, sehingga ketersediaan pohon murbei menjadi syarat mutlak dalam budidaya ulat Sutra.

Salah satu keunggulan pohon murbei adalah kemampuannya hidup pada lahan yang kritis, sehingga budidaya ulat Sutra  dapat sekaligus menjadi sarana untuk menghijaukan lahan tandus.
Ras Kupu-kupu sutra

Saat ini dalam budidaya ulat sutra dikenal empat jenis atau ras kupu - kupu Sutra  unggul yang memiliki produksi kokon yang sangat tinggi dan dapat menghasilkan benang Sutra  dengan kualitas yang baik.


Analisis Usaha Budidaya Ulat Sutra

Untuk memulai usaha budidaya ulat sutra diperlukan modal awal berupa pohon murbei sekitar 7.000 batang. Ini untuk sekali tanam (per kotak benih/telur ulat Sutra ) dan terus berlanjut hingga seterusnya.

Begitu juga dengan media/kotak pembesarannya, cukup dibuat sekali, untuk seterusnya. Harga satu kotak benih/telur urat berisi 25.000 butir telur, dapat dibeli seharga Rp 50.000. Dari satu kotak itu, kepompong yang bisa dihasilkan adalah seberat 40 – 50 kilogram.
Di Kawasan kebun teh kemuning ada yang membudidayakan ulat sutra dan pohon murbai


Address : Dukuh Babar RT. 03/RW 03
Kelurahan : Anggrasmanis, Kec. : Jenawi, Kab. : Karanganyar
Jawa tengah 

Bpk : Sukiman Wignyo Miharjo
Hp. : 082135498831