Rabu, 23 Januari 2013

Endless Pain


  Kubiarkan waktu menunggu. Asa yang kudekap belum terseyum sedari subuh. Hari pun jemu menanggung beban, jemarinya menutup. Punggung tangannya kau cium, rebahkan risau di seberang. Kemana sajakku kau campakkan? Aku hanya lakon yang terbuang.. Sejenak rinai mengingat tertinggal. Dedaunan gugur, ranting-ranting patah. Disana ia mendekam, tempat kita.

Banyak yang tak pantas mengemban sesal. Bukan hanya aku, tapi juga keberanianku untuk menunggu. Jua untuk tetap hidup dalam bayangmu. Aku tidaklah buta dibalik tirai bambu. Aku hanya tertidur dan menumbuhkan aral untuk mimpiku.

Beri aku kesempatan untuk mati. Sebentar saja. Selama itu kau bebas hancurkan mimpi. Juga puisi tak beralamat ini. Kini nelangsaku berbuah janji, masihkah sepi mendera dalam hati?

Usah kau tunggu, sebab takdir abadi. Selama apapun langit membiru. Kesabaran bukan akhirat, aku bukan malaikat. Nyatanya aku hanya gubuk kayu, yang di depanmu selalu rubuh, dibangun kembali, untuk dirubuhkan lagi.

Di tengah padang sebuah harapan berkobar. Menebarkan semerbak kesunyian. Padahal telah lama aku tunggu kau. Juga suara kecil ini. Yang dulu selalu kau belai dengan senyuman, kau kecup dengan tawa dan kebahagiaan, serta kau hadiahkan ucapan selamat malam.

Sesederhana itu aku mencintaimu…

Sederhana, namun tulus…



maaf ya ini saya ambil dari artikel lain.............................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar